Focusing on Developing Dream-Product and Make More “Cyberpunk” Visual Art In-Game


Updated on 30 Jun 2020

Hi Fellow Game Developers!

Di minggu ini, kita mau share 2 lesson learned menarik lainnya dari tim Clay Game Studio dan Pendopo Studio. Menurut mentor, kedua pelajaran ini sangatlah menarik karena berhubungan dengan pengembangan game yang sudah lama diimpikan oleh para tim tersebut. Yuk kita simak saja langsung!

Dari tim Clay Studio, sebelum mereka ikut dalam program Indigo Game Startup Incubation, mereka tidak dapat meluangkan waktu banyak untuk mengembangkan game yang mereka ingin kembangkan sendiri karena selama bertahun-tahun ini mereka harus membuat proyek dari para klien mereka. Selain itu, kurangnya fasilitas yang memadai juga membuat tim ini mengurungkan niat untuk lebih giat dalam melanjutkan pengembangan game yang mereka bawa dalam program IGSI ini lebih jauh lagi. Akhirnya proyek game original mereka pun harus dijalani hanya sedikit-sedikit ketika mereka memiliki waktu lebih dengan fasilitas seadanya.

Setelah terpilih untuk mengikuti program IGSI di batch kedua ini, mereka akhirnya dapat meluangkan waktu penuh terhadap pengembangan game original mereka yang sudah diimpikan sejak lama, yang berjudul “Faerie Afterlight” ini, dengan fasilitas yang lebih memadai karena disediakan oleh tim IGSI. Dari tim ini, para game developer dapat mempelajari sebuah hal bahwa bukan tidak mungkin untuk mewujudkan pembuatan sebuah dream-product walaupun harus memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Bila terkendala oleh fasilitas, juga bukan tidak mungkin tidak akan ada yang membantu memfasilitasi pengembangan game tersebut namun harus disertai dengan niat dan usaha yang maksimal juga,

Selain itu, ada satu hal lain juga yang menarik dari tim Pendopo Studio. Mereka terus melakukan iterasi art untuk visual dalam game mereka agar menjadi lebih berasa “cyberpunk” seperti game lainnya yang mereka jadikan referensi untuk pengembangan game bergenre action-adventure mereka yang berjudul “Rendezvous” ini. Jika kalian sebelumnya pernah membaca artikel berikut ini mengenai pembahasan “bedah” visual game secara teknis bersama salah satu mentor IGSI kita, Yodi Pramudito, kalian dapat melihat seberapa antusiasnya mereka dalam mempelajari untuk membuat visual art yang lebih sesuai untuk game mereka.

Seluruh hal mereka pertimbangkan dari sudut pandang yang terlihat seperti 3D padahal game ini merupakan game 2D, dari segi warna yang lebih “neon” agar lingkungan dalam game mereka terasa seperti “cyberpunk”, dan sebagainya, dalam pengembangan game mereka ini. Dari sini, terdapat lesson learned mengenai pentingnya untuk melakukan riset dari berbagai referensi (baik melalui game, atau animasi dan lainnya yang memiliki visual serupa yang dicari) untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dari game yang sedang dikembangkan.

Apakah kalian juga mengalami hal serupa dengan kedua tim di atas? Atau kalian punya cara sendiri mengatasi hal serupa dengan yang dialami oleh kedua tim tersebut? Simak cerita selanjutnya di minggu berikutnya ya!