Investment, Good or Bad for Your Game Studio?

blog

Ketika kalian ingin membangun sebuah perusahaan startup, pasti banyak pertanyaan di benak kalian, yang mungkin salah satunya adalah, apakah modal yang dipunya cukup? Biasanya, bagi para penemu usaha yang belum punya cukup modal, mereka akan mencoba mencari modal tambahan yang salah satunya bisa dibilang dengan mencari investor. Tetapi, mungkin yang akan menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah sebetulnya investasi itu merupakan suatu hal yang baik, atau justru buruk bagi sebuah startup terutama dalam industri game?

Beberapa waktu lalu, Indigo Game Startup Incubation (IGSI) mengundang Boy Dozan dari Joyseed Gametribe untuk berbincang mengenai hal yang dipertanyakan tersebut. Singkat cerita, Boy sendiri mendirikan Joyseed Gametribe pada awal tahun 2015 dengan modal hanya 20 juta rupiah. Namun setelah sekitar 3 tahun berjalan, pada tahun 2018, usaha game developer startup ini akhirnya diakuisisi oleh iCandy Interactive Limited.

Kala itu, apa yang ada di benak Boy sebagai founder adalah memang dari semenjak awal sudah memiliki visi untuk mencari investor karena tidak memiliki modal yang cukup. Selain itu, ia juga ingin berkontribusi besar bagi kemajuan industri game di Indonesia, tidak hanya menjadi sebuah indie game developer biasa saja. Untuk itu, ia harus membangun sebuah game developer yang dapat berkembang dengan cepat sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang besar juga.

Awal mula mencari investor, Boy mengalami banyak rintangan dalam perjalanannya. Selain ia hanya lulusan universitas lokal, portofolio yang dimiliki juga tidak seluar biasa startup lain yang kebanyakan sudah memiliki hasil fantastis. Ditambah dengan fakta kalau seorang investor, biasanya mencari return yang berkali lipat juga dari uang yang sudah mereka tanamkan. Maka dari situ, dalam 3 tahun perjalanan sebelum diakuisisi, ia terus mengasah startup-nya hingga pada akhirnya bertemu dengan iCandy.

Sebelum diputuskan diakuisisi, banyak pertimbangan yang harus dipikirkan terlebih dahulu oleh Boy dan timnya pada saat itu. Selain keputusan dari tim mereka sendiri akan menjadi minor, dapat dibilang profit yang didapat pun tidak mungkin seluruhnya akan menjadi milik mereka. Namun melihat iCandy sendiri merupakan sebuah game developer yang sudah lama berkecimpung di industri game, mereka memutuskan untuk menerima penawaran akuisisi tersebut.

Dari sekian banyak pertimbangan yang mungkin jadi membatasi gerakan mereka, ternyata banyak kelebihan yang bisa dibilang justru menjadi sangat menguntungkan bagi mereka. Perbedaannya ketika sebuah game developer startup masih berdiri sendiri, ingin membuat perencanaan game apapun, hanya tinggal meyakinkan tim sendiri saja. Lain ketika sudah diakuisisi atau punya investor, pasti kita harus meyakinkan para stakeholder agar perencanaan tersebut dapat dijalankan.

Dengan diakuisisinya Joyseed Gametribe oleh iCandy, hal tersebut juga terjadi pada mereka. Namun keuntungannya adalah, ketika menyampaikan perencanaannya ke akuisitor, karena mereka sudah lebih berpengalaman dalam industri game, justru menjadi banyak feedback atau arahan yang diberikan pada tim Boy. Selain itu, karena networking mereka juga sudah pasti lebih luas, justru jadi banyak hal yang terbantu dengan adanya koneksi tersebut. Jadi selain mendapatkan modal untuk membuat game dan bisa merekrut talent yang capable, juga sekaligus mendapatkan mentorship dari akuisitor serta networking yang luas juga.

Ketika ditanyakan, setelah 2 tahun ini, apakah lebih baik berdiri sendiri atau tetap diakuisisi oleh perusahaan lain, jawaban Boy adalah kembali pada visi kalian dari awal membuat startup. Jika memang dari awal ingin semuanya milik sendiri atau berdiri sendiri, maka berarti sebaiknya tidak diakuisisi atau mencari investor. Tetapi kembali lagi, walaupun tujuan utama investor adalah mencari return, bukan berarti kita juga hanya melihat uang mereka saja, tetapi bisa melihat dari perspektif lainnya seperti channel distribusi mereka, dan sebagainya.

Setelah membaca artikel di atas, bagaimana pemikiran kalian sebagai sebuah game developer startup? Apakah pikiran kalian menjadi lebih terbuka mengenai investasi atau akuisisi ini?

Read More

Pouring Emotion into Game Narrative Design

blog

Ketika kalian memainkan video game, pernahkah kalian merasakan apa yang dirasakan oleh karakter dalam game tersebut? Apakah kalian pernah ikut merasa marah atau sedih ketika sebuah karakter dalam game juga sedang merasakan emosi serupa? Semua hal itu menjadi mungkin dapat kalian rasakan karena adanya sebuah narasi game yang ditata dan diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi suatu wadah yang dapat menyampaikan sebuah cerita yang emosional pada para pemain.

Beberapa waktu lalu, Indigo Game Startup Incubation (IGSI) mengundang Mohammad Fahmi untuk berbagi ilmu lebih mendalam tentang narasi game, dan bagaimana membuat narasi tersebut menjadi sesuatu yang emosional yang dapat dirasakan oleh pemain. Fahmi atau yang lebih kita kenal dengan nama fahmitsu di dunia online merupakan seorang Indie Developer & Consultant saat ini. Ia baru saja merilis game terbarunya, What Comes After, di platform Steam, pada awal November lalu.

Apakah itu game narrative? Menurut Fahmi, pada dasarnya kita tinggal mencari definisi dari game dan narrative saja untuk mengartikannya, atau bisa kita sebut juga sebuah cerita yang ada di dalam game. Untuk membuat cerita tersebut, diperlukan seorang narrative designer yang pastinya mengerjakan narrative design.

Lalu, apakah itu narrative designNarrative design adalah sebuah kegiatan bercerita di suatu media menggunakan apapun yang kita miliki, yang umumnya digunakan dalam video gameNarrative design bisa dibilang berbeda dengan game writing biasa, karena apa yang dilakukan tidak hanya menulis saja, atau bisa dibilang sebuah video game itu tidak hanya berisi sebuah teks saja di dalamnya.

Sebagai seorang narrative designer, kita harus bisa menulis (write), berkolaborasi dengan tim (collaborate), dan mengimplementasikannya (implement).

Yang dimaksudkan dengan menulis, bukan berarti kita jadi bergantung pada kata-kata atau tulisan, karena tidak semua tulisan itu akan disampaikan pada pemain, dan dapat digantikan atau ditunjukkan dengan elemen lainnya. Tetapi bukan berarti kita jadi tidak menulis semuanya juga, karena kita perlu menyampaikan semuanya kepada tim agar mereka mengerti, apa sebetulnya yang ingin kita sampaikan atau ceritakan pada pemain.

Hal tersebut berkesinambungan dengan kolaborasi bersama tim, dimana yang dimaksudkan adalah bahwa sebuah video game itu merupakan sebuah produk multimedia. Hal ini berarti tidak hanya narrative designer saja yang bertanggung jawab atas isi dari video game tersebut, tetapi tim kita juga ikut bertanggung jawab akan isinya. Misalnya sebuah musik yang bisa dipakai sebagai sebuah elemen untuk bercerita, maka seorang composer akan bertanggung jawab untuk dapat membuat musik tersebut. Contoh lain adalah agar sebuah karakter memiliki sebuah karakterisik atau personality yang tampak nyata di mata pemain, maka hal itu merupakan tugas dari character designer untuk membuatnya. Lalu ketika semua elemen sudah dibuat, maka sudah menjadi tugas seorang programmer untuk membuat coding dan menyatukannya menjadi sebuah video game.

Akan tetapi, untuk menyatukan semua elemen tersebut, tetap harus ada yang mengaturnya sedemikian rupa, sehingga experience yang dirasakan pemain jadi benar-benar berasa nyata ketika dimainkan. Setelah menulis, lalu berkolaborasi dengan tim, maka perlu diimplementasikan oleh seorang sutradara (director) untuk menyusun keseluruhan serta kesinambungan antar elemen yang telah dibentuk. Mereka yang dapat membuat sebuah video game ini menjadi spesial di mata pemain, dengan mengatur phasing dalam cerita di game dan menjadi berasa lebih hidup dan berkesan.

Apakah yang dimaksud dengan membuat karakter yang relatable atau terhubung dengan kehidupan manusia? Yang dimaksud adalah bagaimana kita membuat pemain dapat merasakan atau cukup mengerti dengan apa yang dialami oleh karakter dalam game kita. Menurut Fahmi, untuk mencapai hal tersebut, kita dapat memberikan masalah yang harus diselesaikan atau overcome oleh karakter game kita. Misalnya sebuah masalah yang cukup manusiawi dan dapat dimengerti oleh pemain, tidak harus yang pernah mereka rasakan di kehidupannya.

Selain itu, kita juga harus membuat karakter ini memiliki backstory yang jelas juga. Misalnya yang menjadi sebuah alasan mengapa karakter tersebut mengenakan baju seperti ini, atau punya personality seperti itu, dan sebagainya. Hal ini akan sangat mempermudah bagi tim kita juga untuk membuat karakter tersebut menjadi lebih nyata.

Contohnya seperti sebuah karakter game Coffee Talk dari Toge Production ini. Untuk membuat sebuah karakter yang memiliki personality ”awkward”, bisa dibentuk dari gestur tubuh atau cara bicara yang terbata-bata. Bisa juga dibentuk dari mimik muka yang tampaknya selalu khawatir atau gelisah, dan matanya dibuat melirik ke kanan-kiri, dan sebagainya. Walaupun karakternya tidak berbentuk manusia, tetapi hal-hal seperti itulah yang membuatnya jadi seperti “manusia”, dan pemain dapat mengerti atau merasakannya ketika melihat karakter tersebut.

Setelah membuat karakter yang relatable, berikutnya kita dapat membangun sebuah setting yang sesuai di dalam game. Hal ini penting untuk membantu menyampaikan cerita atau aspek lainnya untuk menyampaikan emosi dari game yang kita buat. Contohnya adalah dalam game Coffee Talk, setting yang dibentuk adalah sebuah café yang cozy dan chill karena memang bertujuan agar ketika pemain masuk ke dalam café, mereka akan merasakan tenang dan santai juga seperti karakter yang sedang dimainkannya.

Lalu, hal berikutnya yang dapat dimanfaatkan untuk pemain ikut merasakan emosi dalam cerita adalah seluruh indera pemain. Untuk saat ini, mungkin kita belum terlalu bisa memanfaatkan indera perasa dan penciuman (untuk game digital atau modern), tetapi ada indera penglihatan, pendengaran, dan sentuhan yang sudah bisa kita manfaatkan.

Sebagai contoh pemanfaatan indera sentuhan, ketika bermain game menggunakan console tertentu, gamepad atau joystick yang kita pegang memiliki sebuah fitur getar. Bahkan saat ini sudah ada yang dapat diatur sedemikian rupa sehingga kita dapat betul-betul merasakan sentuhan yang sama seperti kejadian di dalam game yang sedang dimainkan. Misalnya, ketika sedang memainkan sebuah game action, pada saat karakter kita memukul atau dipukul, gamepad yang kita pegang tiba-tiba bergetar dengan keras, seolah-olah kita seperti ikut memukul atau terpukul juga.

Untuk visual, contohnya dapat dilihat melalui karakter dari game Coffee Talk di atas ini. Hanya dengan ekspresi muka yang dia perlihatkan, pemain sudah tahu apa yang sedang ia rasakan atau pikirkan. Tidak perlu sebuah tulisan untuk menjelaskan arti dari ekspresi muka tersebut. Kalaupun ada tulisan, itu hanya berbentuk sebuah teks yang akan membantu karakter ini menjadi seperti lebih “manusia”.

Penggambaran karakteristik sebuah karakter juga dapat disampaikan melalui sebuah alunan musik. Setiap nada atau arrangement dalam lagu dapat dimanfaatkan untuk membuat sebuah nuansa lebih terasa lagi. Misalnya, lagu tema karakter Vivi dari Final Fantasy IX buatan Square Enix. Jika kalian mencoba mendengarkan lagunya, kalian akan dapat merasakan kalau karakter ini merupakan karakter yang polos seperti anak-anak terutama pada nada-nada tertentu di lagunya.

Poin keempat yang perlu diperhatikan lagi adalah mekanik dari game yang kita buat. Gameplay merupakan apa yang membuat video game menjadi berbeda dari media lainnya untuk bercerita, dan bahkan dapat menjadi sebuah aspek yang sangat penting untuk menyampaikan emosi dalam game.

Contohnya, ketika memainkan sebuah game, terdapat rasa puas tersendiri ketika akhirnya berhasil menang melawan penjahat atau bos utama dari game tersebut, apalagi jika game ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk menyelesaikannya. Hal ini dapat menjadi sebuah cerita emosional yang berkesan bagi pemain, didukung dengan cerita yang disampaikan setelah berhasil melewati tantangan atau rintangan sulit tersebut.

Di akhir sesi, Fahmi lalu memberikan sedikit latihan untuk para game developer berkaitan dengan ilmu yang baru saja ia sampaikan di atas tadi. Bagaimana para game developer? Apakah kalian dapat menjawabnya?

Kita yakin kalau kalian mencoba menjawab pertanyaan tersebut, kalian bisa jauh lebih mengerti bagaimana membuat sebuah narasi menjadi lebih emosional untuk disampaikan pada pemain. Masih banyak contoh lain yang disampaikan Fahmi dan juga sesi tanya jawab yang dapat kalian tonton selengkapnya di link berikut ini.

Read More

How to Create a Great Game Within Budget?

blog

Terkadang di setiap pemikiran game developer, terutama yang masih startup, ketika ingin membuat game, hal paling utama yang dipikirkan adalah “apakah budget yang dimiliki cukup untuk membuat sebuah game yang bagus?” Pada webinar Indigo Game Startup Incubation (IGSI) beberapa waktu lalu, IGSI mengundang Fandry Indrayadi, Creative Director dari Agate, untuk menjawab pertanyaan yang selalu membuat para game developer bertanya-tanya.

Dahulu sebelum masuk ke Agate, Fandry juga pernah memiliki sebuah tim kecil yang terjun di dunia indie game developer. Pada masa itu, ia dan timnya hanya berpikir, bagaimana bisa deliver sesuatu yang terbaik walaupun dengan budget yang terbatas. Akhirnya mereka mencoba untuk memakai pendekatan “Hollow Square Theory” tentang bagaimana caranya membuat game dalam budget yang dimiliki.

Trik pertama yang mungkin sebaiknya diikuti dari teori tersebut adalah, tidak semuanya harus sempurna untuk membuat sebuah game yang bagus. Pola pikir yang ingin disampaikan dari trik tersebut adalah bila kita dapat membuat sesuatu yang penting itu bagus, maka bagian lain dari game tersebut juga akan ikut menjadi bagus juga.

Berikutnya Fandry menunjukkan beberapa grafik yang menunjukkan level excitement dari seorang player seiring berjalannya waktu ia bermain game. Pada grafik-grafik tersebut, garis axis y menunjukkan “Thrill” atau excitement yang dirasakan pemain, dan garis axis x menunjukkan “Span” atau lama waktu player bermain game.

Grafik di atas memperlihatkan sebuah game yang mediocre, dimana ketika dimainkan tak ada perasaan naik atau turun dari player yang memainkannya dari awal permainan hingga selesai. Menurutnya, justru hal seperti inilah yang dihindari oleh seorang game designer. Bahkan lebih baik membuat sebuah game dengan low quality, karena masih ada rasa “enjoy” ketika player bermain game tersebut, dan juga memiliki momen yang diingat betul oleh player mengenai game itu.

Grafik di atas memperlihatkan sebuah game yang mediocre, dimana ketika dimainkan tak ada perasaan naik atau turun dari player yang memainkannya dari awal permainan hingga selesai. Menurutnya, justru hal seperti inilah yang dihindari oleh seorang game designer. Bahkan lebih baik membuat sebuah game dengan low quality, karena masih ada rasa “enjoy” ketika player bermain game tersebut, dan juga memiliki momen yang diingat betul oleh player mengenai game itu.

Read More

Why is a Virtual Economy Design Important for Free to Play Game?

blog

Sebuah free to play game yang baik, rata-rata dimainkan tidak hanya dalam 2 hingga 10 jam saja, tetapi bisa dimainkan bahkan hingga lebih dari 1 tahun lamanya. Apa yang membuat para pemain tetap betah dalam memainkan game tersebut? Apakah pengembang game yang membuat game tersebut juga tidak rugi membuatkan game gratisan untuk dimainkan? Padahal pasti mereka memerlukan pemasukan untuk membuat game-nya tetap berjalan bagi para pemain setianya.

Ternyata jawabannya adalah sistem monetisasi atau ekonomi virtual dalam game tersebut yang didesain dengan sebaik mungkin. Dalam Skill Tree Asosiasi Game Indonesia (AGI) episode 18, AGI mengundang Julio Andryanto dari Dreams Studio untuk membahas mengenai mengapa desain ekonomi virtual penting terutama untuk free to play game. Dreams Studio sendiri merupakan peserta dari program Indigo Game Startup Incubation (IGSI) batch ke-2 dan ke-3 yang berasal dari Batam.

Julio disini menjelaskan, ketika seorang pemain dalam waktu sekejap sudah tidak ingin memainkan lagi sebuah free to play game, biasanya ada 2 permasalahan yang terjadi dari desain game tersebut. Yang pertama adalah ketika progress pemain / user yang terlalu cepat atau lambat (misalnya progress menaikkan level atau status karakter dalam game). Kedua adalah virtual currency dalam game tersebut terlalu mudah atau terlalu sulit untuk diambil (seperti diamond atau gem untuk membeli suatu gear / equipment khusus) sehingga pemain akan merasa tidak layak meluangkan waktunya untuk memainkan game tersebut. Maka penting bagi seorang game designer untuk mendesain sebuah ekonomi virtual dalam game-nya yang baik dan juga dapat diukur dengan jelas.

Dalam studi kasus pertama, Julio memperlihatkan sebuah contoh dari game yang pernah mereka kembangkan bersama dengan Niji Games yang berjudul Leturn: Defense of Magic. Seperti terlihat dalam diagram di atas, rata-rata player melakukan spend di awal memainkan game-nya (titik berwarna hijau). Lalu dapat dilihat dari garis di bawah yang menunjukkan lama mereka memainkan _game-_nya (hours), dalam waktu tidak lama mereka sudah tidak memainkan game tersebut (titik berwarna merah). Mereka rata-rata mengeluarkan uang di awal bermain karena memang game ini didesain seperti sebuah game premium (misalnya yang mengharuskan mereka untuk bayar jika ingin melanjutkan bermain).

Kenapa terjadi hal seperti itu padahal dapat dikatakan game ini merupakan sebuah game yang bagus? Ternyata permasalahan ada pada game economy atau currency yang mereka rancang ketika membuat game tersebut. Mereka juga jadi kesulitan untuk melihat data apa yang menjadi masalah dalam desain game tadi karena di awal mereka merancang game tersebut, mereka membuat dokumen atau data untuk pembuatan game-nya terpisah-pisah atau standalone (berdiri sendiri).

Berikutnya mereka memberikan contoh sebuah desain ekonomi virtual yang telah dibentuk menjadi diagram. Seperti yang terlihat pada diagram di kiri atas, mulai dari sekitar menit 70, garis berwarna oranye yang menunjukkan income selalu berada di atas cost (garis berwarna biru), yang dapat diartikan kalau user lebih gampang main. Kemudian di diagram kanan atas, grafik menunjukkan bahwa seiring berjalannya waktu, cost perlahan naik ke atas. Dengan data yang terintegrasi, setiap _cost (_misalnya untuk upgrade atau pembelian lainnya) dapat dijadikan satu data dan terlihat dengan jelas seperti ini.

Kemudian pada diagram kanan bawah, terdapat beberapa garis berwarna kuning, hijau, dan ungu yang menunjukkan ketika user beli premium. Dapat diartikan dari grafik tersebut, bila mereka membeli premium lebih banyak lagi, income juga akan selalu berada di atas cost. Namun perlu dicatat juga bahwa yang ingin kita capai disini adalah ketika income tidak terlalu tinggi, tetapi cost juga tidak terlalu di bawah, sehigga terjadi sebuah balance yang baik dalam desain ekonomi virtual di game.

Julio juga bercerita mengenai ketika ia pergi ke sebuah mentoring yang diadakan di Singapur, dan disana ia ditanyakan hal seperti ini, “apakah yang ingin kalian bangun? Sebuah game? Atau sebuah perusahaan?” Dikatakan jika hanya ingin membuat game, maka tidak perlu pusing memikirkan bagaimana sistem monetisasi game tersebut. Sedangkan jika ingin membuat sebuah perusahaan, maka sedari awal lebih baik sudah memikirkan sistem monetisasi game itu. Sebuah game yang baik (misalnya, gameplay atau mechanic yang baik) dengan desain ekonomi game yang baik juga, akan menghasilkan sebuah retensi yang bagus sehingga menjadi sistem monetisasi yang bagus pula.

Dalam studi kasus kedua, mereka kemudian menunjukkan game yang saat itu sedang mereka kembangkan melalui program IGSI, yang berjudul Milky Way: Space Idle Shooter. Julio menekankan bahwa ketika menentukan currency dalam game, penting untuk ditentukan juga fungsi dan tujuan dari setiap currency tersebut. Yang paling penting disini bukan desain dari sistem currency, melainkan bagaimana seorang game designer membuat semua peran dalam timnya juga mengerti akan sistem currency yang ia desain.

Jika dalam studi kasus pertama mereka membuat setiap data terpisah atau berdiri sendiri, disini mereka belajar dari kesalahan tersebut. Mereka membuat seluruh data terintegrasi dari awal sehigga mudah untuk melihat datanya dan mudah juga untuk mem-balance­ desain ekonomi virtual game-nya.

Kali ini mereka menunjukkan sedikit contoh integrasi data menggunakan machinations.io. Terlihat dari grafik pada gambar di atas, ada sebuah garis biru yang menunjukkan currency diamond. Seiring dengan berjalannya game, garis tersebut juga ikut semakin naik. Namun di terakhir justru tidak terpakai, padahal currency ini merupakan sebuah currency yang penting karena currency ke-3, yang berarti ada permasalahan dari desain ekonomi virtual mereka. Lalu di garis yang berwarna kuning / emas, di menit sekitar 300 terjadi sink atau penurunan karena pemakaian yang terlalu banyak. Dari sini terlihat bahwa dengan data dan desain yang pasti, maka diagram juga dapat terlihat dengan sangat jelas sehingga balancing game-nya juga menjadi mudah.

Akhir kata, secara singkat mereka menjelaskan bahwa hal-hal yang paling penting untuk diperhatikan ketika mendesain sebuah ekonomi virtual dalam game yang akan dikembangkan adalah:

1. Aspek dari game economy adalah designing money, market, and currency.

2. Seorang game designer harus dapat merancang sebuah sistem atau data yang terintegrasi dan dinamis.

3. Sistem monetisasi sudah harus dipikirkan semenjak dari awal ingin mengembangkan game.

Semoga isi dari artikel ini bermanfaat dan pembaca menjadi lebih mengerti pentingnya sebuah desain ekonomi virtual dalam mendesain sebuah game.

Read More

Opening Ceremony Online Indigo Game Startup Incubation Batch 03

blog

Bandung, 20 Oktober 2020 – Program inkubasi game startup pertama di Indonesia, Indigo Game Startup Incubation (IGSI), telah melakukan seremonial pembukaan untuk batch ke-3 pada Jumat, 16 Oktober 2020. Acara dihadiri oleh perwakilan dari pihak Telkom Indonesia dan Melon Indonesia serta para mentor, tim manajemen IGSI, dan peserta batch ke-3.

Acara dibuka dengan kata sambutan pertama dari Johannes Adi Purnama Putra selaku Manager Open Innovation Incubation Management of Indigo. Beliau memberikan ucapan selamat datang kepada peserta batch ke-3 dan mengharapkan program tetap dapat berjalan dengan baik dan lancar walaupun secara daring (online) melihat pengalaman dari batch sebelumnya. Johannes menyampaikan harapannya kepada peserta batch ke-3 dengan mengatakan, “Kami harapkan teman-teman semangatnya tetap tinggi, kemudian dengan bantuan mentor yang ada bisa menghasilkan game yang berkualitas yang semoga kedepannya bisa masuk ke program Indigo Creative Nation (ICN) untuk mendapatkan pendanaan yang lebih besar dan juga tumbuh besar bersama dengan Telkom Group dan Melon.”

Kata sambutan kedua diberikan oleh Restya Winda Astari selaku Program Director IGSI. Dalam kata sambutan, Restya berharap walaupun bekerja dari rumah, para peserta tetap bisa produktif. Diharapkan juga dapat membagi waktu antara ketika harus serius, maupun sedang bersantai atau bersenang-senang. Seperti yang dikatakan dalam kata sambutannya, “Game yang bagus itu biasanya dihasilkan oleh developer yang bahagia. Jadi jangan lupa untuk tetap bahagia dan produktif.”

Seremonial pembukaan batch ke-3 kemudian masuk pada inti acara dimana para peserta dipersilahkan untuk memperkenalkan tim mereka serta menceritakan sekilas game yang akan mereka kembangkan di program IGSI. Berikut nama tim peserta batch ke-3 beserta kota asal dan nama game mereka:

  1. Anoman Studio dari Jakarta: Kala (PC)
  2. DEV.ata Game dari Bali: Legend of Dragon Warrior (PC)
  3. Dreams Studio dari Batam: Armaegis: Absolute Dominion (Mobile)
  4. MyHand Studio dari Semarang: Lupus: The Lost World (PC)
  5. Satriver Studio dari Malang: Crazy Delivery Services (Mobile)
  6. VanTrails Games dari Jakarta: Soul Spira: Rise of the Scarlet Knight (Mobile)

Selain perkenalan dari tim peserta, para mentor IGSI dan tim manajemen IGSI juga diperkenalkan secara singkat pada para peserta batch ke-3. Untuk mengingatkan kembali tentang briefing program IGSI, Restya kembali menjelaskan dengan singkat tentang program yang akan dijalankan oleh peserta.

Penjelasan tersebut mencakup periode dari masa inkubasi batch ke-3 dan fasilitas yang akan diberikan selama masa inkubasi. Restya juga memberitahukan fase pengembangan game apa yang akan dilalui dalam masa inkubasi, serta output atau hasil yang diharapkan dari peserta baik saat masa inkubasi berjalan maupun saat akan selesai.

Sebagai penutup acara, Restya mengatakan bahwa IGSI merupakan pintu gerbang bagi kesempatan-kesempatan selanjutnya, yaitu kesempatan untuk di-invest dan mendapatkan deal publishing. Ia berharap para peserta akan memanfaatkan program IGSI sebaik-baiknya. Kemudian Restya mengutip kata-kata dari salah satu peserta batch ke-3, “Kalaupun kita nanti kedepannya tidak mendapatkan investment, setidaknya kita sudah mendapatkan banyak ilmu dari mentoring.”

Masa inkubasi batch ke-3 akan kembali diadakan secara online (work from home) seperti pada batch ke-2 selama empat bulan ke depan. Program IGSI telah berhasil mengangkat 20 game startup per September 2020. Ikuti terus perkembangan mengenai para peserta batch ke-3 melalui website dan sosial media official IGSI.

Tentang Telkom Indonesia

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Telkom adalah Pemerintah Republik Indonesia sebesar 52.09%, sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh publik. Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode “TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode “TLK”.

Dalam upaya bertransformasi menjadi digital telecommunication company, Telkom Group mengimplementasikan strategi bisnis dan operasional perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan (customer-oriented). Transformasi tersebut akan membuat organisasi TelkomGroup menjadi lebih lean (ramping) dan agile (lincah) dalam beradaptasi dengan perubahan industri telekomunikasi yang berlangsung sangat cepat. Organisasi yang baru juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menciptakan customer experience yang berkualitas.

Kegiatan usaha TelkomGroup bertumbuh dan berubah seiring dengan perkembangan teknologi, informasi dan digitalisasi, namun masih dalam koridor industri telekomunikasi dan informasi. Hal ini terlihat dari lini bisnis yang terus berkembang melengkapi legacy yang sudah ada sebelumnya.

Telkom mulai saat ini membagi bisnisnya menjadi 3 Digital Business Domain:

  1. Digital Connectivity: Fiber to the x (FTTx), 5G, Software Defined Networking (SDN)/ Network Function Virtualization (NFV)/ Satellite
  2. Digital Platform: Data Center, Cloud, Internet of Things (IoT), Big Data/ Artificial Intelligence (AI), Cybersecurity
  3. Digital Services: Enterprise, Consumer

Dapatkan informasi terbaru mengenai Telkom Indonesia melalui:

Website : https://www.telkom.co.id/

Facebook : https://www.facebook.com/TelkomIndonesia

Instagram : https://www.instagram.com/telkomindonesia/

Twitter : https://twitter.com/telkomindonesia

YouTube : https://www.youtube.com/c/telkomindonesiaofficial

LinkedIn : https://www.linkedin.com/company/telekomunikasi-indonesia/

Tentang Melon Indonesia

Melon Indonesia dibentuk tahun 2010 sebagai usaha patungan (Joint Venture Company) antara PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) dengan SK Telecom (SKT) untuk menghadirkan layanan musik digital di Indonesia. Di akhir tahun 2016, Telkom mengakuisisi seluruh saham SKT, sehingga menjadi 100% Telkom Group.

Fokus bisnis perusahaan adalah layanan musik digital, seperti: audio streaming, video, karaoke, full track download, music box, ring back tone, text content, IVR, dan lain-lain. Saat ini Melon Indonesia lebih fokus melayani pasar B2B2C, seperti perusahaan telekomunikasi, penyedia jasa internet, FMCG, dan perusahaan retail lainnya. Sejalan dengan perkembangan bisnis, perusahaan mulai mengembangkan beberapa layanan B2B maupun B2C, yaitu Upoint.id, Upoint esports, langit musik, dan juga Melon Publishing (Oolean) sebagai sebuah Game Publisher.

Dapatkan informasi terbaru mengenai Melon Indonesia melalui:

Website : https://melon.id/

Facebook : https://www.facebook.com/MelOnIndonesia/

Instagram : https://www.instagram.com/melonindonesia/?hl=en

Twitter : https://twitter.com/melonindonesia

YouTube : https://www.youtube.com/channel/UCuHHdG_ohKvmWCqfM62deag

Tentang Indigo Game Startup Incubation

Program Indigo Game Startup Incubation (IGSI) adalah sebuah program di bawah naungan Indigo Creative Nation (ICN) yang berdiri pada bulan September tahun 2019. Program IGSI merupakan salah satu upaya dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) untuk mengembangkan ekosistem digital di Indonesia, khususnya ekosistem game. Program ini adalah hasil kerja sama antara Telkom Indonesia bersama dengan Melon Indonesia sebagai salah satu Game Publisher di Indonesia dan Agate sebagai Game Developer terbesar di Indonesia saat ini, melalui bagian yang berkonsentrasi pada akademi khusus untuk pengembangan game, yaitu Agate Academy.

Program Indigo Game Startup Incubation ditujukan untuk membantu para game studio atau game developer terutama yang masih startup di Indonesia agar mereka dapat membuat game terbaik. Harapan lainnya, mereka bisa menjadi sebuah usaha yang dapat bertahan serta menguasai pasar industri game di negeri sendiri, bahkan hingga ranah internasional.

Dapatkan informasi terbaru mengenai Indigo Game Startup Incubation melalui:

Website : https://game.indigo.id/

Facebook Page : https://www.facebook.com/game.indigo.id/

Instagram : https://www.instagram.com/game.indigo.id/

Twitter : https://twitter.com/game_indigo_id

YouTube : http://www.youtube.com/c/IndigoGameStartupIncubation

IGSI Official Contacts:

Email: game.indigo.id@gmail.com

Whatsapp: +62 822 1778 7119

Read More

INDIGO GAME STARTUP INCUBATION BATCH 02: Has Reached Their Final Step, The External Demo Day!

blog

Tak terasa, 4 bulan sudah berlalu dari dimulainya masa inkubasi program Indigo Game Startup Incubation (IGSI) Batch 02 dan kini sudah saatnya bagi para peserta batch 02 memasuki tahap akhir dari program inkubasi, yaitu Demo Day Eksternal. Dimana dalam acara ini, para peserta akan menampilkan hasil karya gim-nya melalui showcase. Memang sedikit berbeda dari batch terdahulu, karena kali ini showcase akan diadakan secara online dan di publish pada Channel Youtube IGSI, hal ini dilakukan guna mengikuti himbauan dari pemerintah.

Banner IGSI Batch 02 External Demo Day dan 10 nama tim yang mengikuti program IGSI batch 02

Ada pun acara Demo Day Eksternal sendiri telah diselenggarakan secara livestream pada tanggal 30 September 2020 dengan tetap mengundang para Game Publisher dan Game Developer, serta para Investor guna melihat dan menyaksikan bersama karya-karya dari para peserta inkubasi melalui sebuah platform. Lain dari cara yang sebelumnya, acara Demo Day Batch 02 ini pun bisa turut disaksikan oleh publik melalui Channel Youtube IGSI.

Dinoor Susatijo (SM Indigo Management)

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Dinoor Susatijo selaku SM Indigo Management, yang mengatakan bahwa menurut data yang didapat dari Asosiasi Game Indonesia (AGI), pertumbuhan pengembang game di Indonesia justru naik 10 hingga 20 persen di masa pandemi ini. Selain itu, pada tahun 2019, sebuah data juga menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat 12 di pasar gaming dunia dengan total pemain game aktif sebanyak 62,1 juta orang dan secara keseluruhan industri ini menghasilkan pendapatan sebesar sekitar Rp 15 triliun, atau setara USD 1,04 miliar.

Pemerintah juga telah mendorong industri ini dengan mengupayakan berbagai inisiatif strategis terutama agar konten-konten game buatan anak bangsa ini dapat mendominasi pasar game nasional, bahkan hingga global. Melihat hal tersebut, pada tahun 2019 silam, Telkom Indonesia bekerja sama bersama PT Agate Internasional sebagai perusahaan game terbesar di Indonesia saat ini dan juga Melon Indonesia sebagai anak perusahaan dari Telkom Indonesia yang juga menjalankan bisnis sebagai Game Publisher di Indonesia.

Beliau juga sedikit menjelaskan mengenai 2 program utama yang berada di dalam IGSI, yaitu DILo Game Academy (DGA) dan juga program inkubasi game startup yang sudah kita kenal sebagai IGSI. Melalui program tersebut, beliau mengatakan, “diharapkan para talenta-talenta tersebut dapat saling berkolaborasi untuk mengembangkan sebuah startup game baru yang menghasilkan karya yang tumbuh besar di pasar.”

Dedi Suherman (CEO Melon Indonesia)

Kemudian kata sambutan berikutnya diberikan oleh Dedi Suherman selaku CEO dari Melon Indonesia. Beliau menyayangkan industri game di Indonesia ini masih dikuasai oleh produk-produk dari luar negeri, padahal industri ini merupakan sebuah industri yang sangat menjanjikan. Adapun harapan dari beliau mengenai program IGSI dengan mengatakan, “kami berharap konten lokal (dan) game lokal bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Keterampilan, skill, dan kemampuan kita men-develop game menjadi kata kunci bagaimana game (kita) bisa menguasai pasar tanah air dan bisa di-ekspor ke luar negeri.”

Lalu, menariknya, di acara Eksternal Demo Day IGSI Batch 02 ini, tim manajemen juga menyediakan gim dalam bentuk demo play dari para peserta berupa link sehingga para penonton juga dapat mencoba memainkan gim yang cukup menarik perhatian mereka.

Kesepuluh peserta batch 02 dan gim hasil buatan mereka adalah sebagai berikut:

1. Dreams Studio “Milky Way: Idle Space Shooter”

Screenshot Game dari tim Dreams Studio

Milky Way: Idle Space Shooter merupakan sebuah mobile game dengan gameplay mechanic yang simple, yaitu dengan cara tap-tap layar untuk mengalahkan musuh. Tujuan player memainkan game ini adalah menguasai seluruh galaksi dengan menjajahi planet-planet dan mendapatkan mineral serta membangun sebuah tim pesawat luar angkasa yang kuat.

Link Game Reviews: https://youtu.be/TJzzIavHNTI

Link Game Trailer: https://youtu.be/indk52vYBRM

Link Demo: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.Dreamstudio.MW

2. Orange Games Production “Elementalist”

Screenshot Game dari tim Orange Games Production

Elementalist merupakan sebuah mobile game dimana para pemain akan disuguhi beberapa karakter dengan skill yang unik untuk setiap karakternya yang juga akan menunjang spell-spell berbentuk kartu yang dimiliki pemain. Kartu-kartu spell tersebut dapat digunakan untuk mengalahkan musuh dalam game ini.

Link Game Reviews: https://youtu.be/9S8xuGaPIJc

Link Game Trailer: https://youtu.be/OFs_gDrK0do

Link Demo: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.OrangeGamesProduction.Elementalist

3. Alphac Studios “Labs 2045″

Screenshot Game dari tim Alphac Studios

Mobile game yang bertemakan robot ini membiarkan para pemain untuk kustomisasi robot yang dimiliki agar menjadi kuat untuk mengalahkan musuh yang juga berupa robot untuk menyelesaikan misi-misi di dalam game berjudul Labs 2045 ini.

Link Game Reviews: https://youtu.be/OgQBlDsACKI

Link Game Trailer: https://youtu.be/PIkfl0lqsy4

Link Demo: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.AlphacStudios.Labs2045

4. Last Boss Studio “Tower Dungeon”

Screenshot Game dari tim Last Boss Studio

Mobile game yang memadukan antara ritme dan aksi ini akan menguji kemampuan para pemain untuk menyesuaikan diri dengan tempo yang tepat sembari menyerang dan bertahan dari para musuh dalam game berjudul Tower Dungeon ini agar dapat berlanjut ke level berikutnya.

Link Game Reviews: https://youtu.be/95hJuqcwUxE

Link Game Trailer: https://youtu.be/AKiQAM00CbA

Link Demo: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.LastBossStudio.TowerDungeon

5. Sweet Potato Studio “Witch Game”

Screenshot Game dari tim Sweet Potato Studio

Witch Game merupakan sebuah mobile game berbasis multiplayer dimana dapat dimainkan oleh 4 orang pemain secara bersamaan. Pemain akan dituntut untuk eksplorasi sebuah wilayah yang luas dan bertahan dengan menyerang pemain lain tetapi tetap harus mengalahkan musuh dan juga boss yang akan muncul dalam permainan.

Link Game Reviews: https://youtu.be/ySpVL1rsV78

Link Game Trailer: https://youtu.be/WIe8Z4N6BAk

Link Demo: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.SweetPotato.Witchnesia

6. GrinSmile “(Don’t) Step on Me!”

Screenshot Game dari tim GrinSmile

PC game dengan pixel art berjudul (Don’t) Step on Me ini merupakan sebuah game berbasis multiplayer yang akan menuntut para pemain saling menginjak pemain lainnya untuk membuat satu set huruf yang telah ditentukan pada awal permainan sebelum dimulai. Game ini ditujukan untuk dimainkan bersama teman atau keluarga dengan berbagai karakter lucu dan latar game yang bermacam-macam.

Link Game Reviews: https://youtu.be/wBLJGLEyk1I

Link Game Trailer: https://youtu.be/OH0sBRJhgY8

Link Demo: https://grinsmile.itch.io/dont-step-on-me

7. 4Happy Studio “Who is He: Let Me Out”

Screenshot Game dari tim 4Happy Studio

Who is He: Let Me Out merupakan PC Game yang memiliki genre horror-puzzle dengan latar tahun 1960-an di Indonesia. Game ini bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Alvin yang merupakan anak dari sebuah keluarga kaya keturunan Belanda, terbangun dari sebuah mimpi aneh di rumahnya, dan harus memecahkan berbagai puzzle agar dapat keluar dari rumahnya untuk mencari tahu keberadaan keluarganya.

Link Game Reviews: https://youtu.be/npr1PeU779U

Link Game Trailer: https://youtu.be/CHUy2KAmiRg

Link Demo

· Steam: https://store.steampowered.com/app/1269520/Who_is_He_Let_Me_Out/

· Itchio: https://4happy.itch.io/letmeout

8. Clay Game Studio “Faerie Afterlight”

Screenshot Game dari tim Clay Game Studio

Faerie Afterlight merupakan sebuah PC Game dengan genre platformer metroidvania. Disini pemain akan memainkan sebuah karakter utama bernama Kimo yang berusaha mencari serpihan berbentuk cahaya bersama partnernya Whispy untuk mengembalikan Lumina, yaitu sebuah tanah yang subur dimana banyak mahluk hidup dengan tentram sebelum kegelapan datang di dunia tersebut.

Link Game Reviews: https://youtu.be/RvfPbTo4PPc

Link Game Trailer: https://youtu.be/H4QQTN4srb4

Link Demo

· Steam: https://store.steampowered.com/app/1415280/Faerie_Afterlight/

· Itchio: https://claygamestudio.itch.io/faerie-afterlight

9. Studio Teamless “Make Peas not War”

Screenshot Game dari tim Studio Teamless

Make Peas not War merupakan sebuah PC Game bertemakan makanan dengan genre rogue-lite dungeon crawler. Disini pemain diharuskan mendapatkan bahan masakan dari barang yang dijatuhkan oleh musuh dengan mengalahkannya, dan membuat berbagai masakan dari bahan tersebut untuk dijadikan sebuah alat atau senjata untuk menyerang musuh-musuh di dalam game.

Link Game Reviews: https://youtu.be/fbFBLUO7CCg

Link Game Trailer: https://youtu.be/hdKnm3rJ1aA

Link Demo: https://drive.google.com/drive/folders/1al1JOu8AYMCPZuh8GpUklhUydShzxqzx?usp=sharing

10. Pendopo Studio “Rendezvous”

Screenshot Game dari tim Pendopo Studio

PC Game berjudul Rendezvous ini memiliki tema futuristic dengan genre puzzle-adventure di dalamnya. Pemain akan bermain sebagai Setyo, tokoh utama dari game ini, yang berusaha mencari adiknya yang tidak diketahui keberadaannya. Dalam game ini pemain harus memecahkan berbagai puzzle, mengalahkan musuh, juga menghindar dari kejaran-kejaran orang yang ingin mencelakai Setyo dan juga adiknya.

Link Game Reviews: https://youtu.be/BmfzgSKuOMk

Link Game Trailer: https://youtu.be/Rv14w08XBWU

Link Demo

· Steam: https://store.steampowered.com/app/1409300/Rendezvous/

· Itchio: https://pendopo.itch.io/rendezvous

Program IGSI batch ke-2 ini telah melakukan sebuah acara penutupan pada hari Jumat, 9 Oktober 2020 lalu, dan program IGSI batch ke-3 akan mulai berjalan pada pertengahan bulan Oktober 2020 mendatang. Program yang berada dalam naungan Indigo Creative Nation (ICN) ini merupakan program inkubasi pertama untuk game startup di Indonesia dan merupakan hasil kerjasama antara Telkom Indonesia dengan Melon Indonesia sebagai Game Publisher serta PT Agate International sebagai Game Developer terbesar di Indonesia saat ini melalui Agate Academy. Ikuti terus perkembangan mengenai program ini melalui sosial media resmi IGSI di Facebook Page IGSI, Instagram (@game.indigo.id), juga Twitter (@game_indigo_id).

Bagi yang belum menonton acara Demo Day Eksternal Batch 02, langsung tonton saja selengkapnya di Channel Youtube IGSI di link berikut ini.

Read More

Indigo Game Startup Incubation Collaborate with Game Lab Indonesia

blog

Mengutip dari situs gamelab.id, pada tanggal 19 Agustus 2020 lalu, telah terjalin kerjasama antara Indigo Game Startup Incubation (IGSI) dan Game Lab Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditandatanganinya perjanjian kerjasama sebagai mitra dalam bidang magang dan inkubasi game startup oleh kedua belah pihak, Aditia Dwiperdana sebagai Program Advisor IGSI dan Andi Taru sebagai Director Game Lab Indonesia.

Menurut Aditia, hal terpenting untuk game developer adalah pengalaman, karena semakin banyak membuat game, semakin banyak ‘potongan puzzle’ yang bisa kita gunakan untuk membuat game yang lebih besar dan kompleks. Karena itu IGSI berusaha memperluas kesempatan untuk mendapat pengalaman di industri game melalui kerjasama dengan Game Lab.

Wadah yang dimaksud adalah dalam kerjasama ini, para peserta yang sudah lulus dari program DILo Game Academy yang juga merupakan program akademi game dalam IGSI, dapat mengikuti magang di Game Lab dengan melalui beberapa rangkaian seleksi. Game Lab sendiri merupakan sebuah platform yang bergerak dalam bidang Magang, Pelatihan, dan Karir terutama untuk para pencari pengalaman di industri game.

Para peserta yang dinyatakan diterima magang di Game Lab akan diberikan pelatihan terlebih dahulu yang kemudian diberikan studi kasus based on project agar dapat memberikan pengalaman nyata kepada para peserta magang tersebut. Program ini akan dilakukan secara online, sehingga dapat diikuti oleh seluruh peserta di Indonesia.

Kabar baik lainnya adalah, setelah mendapatkan pengalaman dari program magang di Game Lab, para peserta kemudian dapat mengikuti program inkubasi yang diadakan oleh IGSI sebanyak 2 kali dalam satu tahunnya. Namun tetap tidak terbatas kepada tahap seleksi yang dilakukan IGSI agar dapat bergabung ke dalam proses inkubasi game startup.

Tujuan dari diadakannya kerjasama ini tentunya adalah untuk memberikan pengalaman nyata pada para kreator muda yang memiliki passion di bidang pengembangan game agar dapat meningkatkan kemampuannya sesuai dengan kebutuhan industri game saat ini. Dengan diikutinya program magang ini juga diharapkan agar para peserta ini telah merasakan bagaimana berkomunikasi yang baik untuk bekerja bersama sebuah tim dan memiliki satu pemikiran untuk mencapai tujuan dari tim tersebut.

Read More

IGSI Batch 3 Open Registration and Extended to 4th September 2020

blog

Setelah lebih dari sebulan masa inkubasi program Indigo Game Startup Incubation Batch 2 berjalan, IGSI kembali membuka pendaftaran bagi para Game Developer untuk mengikuti program batch ketiga di tanggal 10 Juli 2020 lalu. Untuk menarik lebih banyak pengembang game Indonesia terutama yang masih baru berdiri, tim manajemen IGSI mengadakan Webinar Online setiap minggunya di bulan Juli hingga pertengahan Agustus sebagai pengganti acara Roadshow yang biasanya diadakan ke 5 kota besar di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan dari para peserta dikarenakan masih adanya pandemi virus Covid-19.

Adapun berbagai benefit yang bisa didapatkan oleh para peserta jika mereka terpilih untuk ikut program IGSI, yaitu: dana dan investasi hingga 2 Miliar Rupiah, mentoring dari para ahlinya, dan juga pemberian lisensi untuk software terkait pengembangan game serta peminjaman hardware namun hanya untuk beberapa part yang masih bisa dikirim melalui ekspedisi.

Pembukaan registrasi batch 3 yang seharusnya hanya sampai tanggal 21 Agustus 2020, diperpanjang hingga tanggal 4 September 2020 mendatang dikarenakan adanya beberapa peraturan dan informasi baru yang akan diterapkan di program IGSI batch ke-3. Berikut beberapa informasi baru tersebut seperti yang dapat dilihat pada banner di atas.

  1. Kondisi kerja bagi para peserta batch 3: Full Remote atau Kerja Dari Rumah.
  2. Masa inkubasi yang seharusnya 3 bulan menjadi 4 bulan karena kondisi kerja yang baru.
  3. Tim yang mendaftar minimal harus berisikan 2 orang, dan maksimal bisa berisikan hingga 10 orang.
  4. Seluruh tim diharapkan sudah memiliki peralatan yang memadai untuk pengembangan game, seperti: PC atau laptop yang memadai, peralatan untuk menggambar digital, dan peralatan untuk koordinasi secara online (headset dan mic).

Selain informasi di atas, adapun pemberitahuan lainnya terkait uang saku bagi para peserta batch 3 nantinya. Dikarenakan masa inkubasi yang diperpanjang menjadi 4 bulan, maka uang saku yang akan diberikan menjadi Rp 2.750.000,- per orang per bulannya. Selain itu dikarenakan kondisi kerja para peserta menjadi online dari rumah masing-masing, akan ada penggantian penggunaan internet sebesar Rp 250.000,- per orang per bulannya.

Bagi para game developer yang ketinggalan mengikuti acara webinar online dari IGSI, bisa menonton secara lengkapnya di Playlist Youtube berikut ini. Ada banyak informasi yang pastinya akan sangat berguna bagi para game developer terutama yang sedang mencari insight untuk perkembangan game-nya. Untuk yang masih memiliki banyak pertanyaan mengenai program IGSI, bisa cek secara lengkapnya di halaman FAQ website IGSI.

Daftar sekarang di link berikut ini untuk ikut program IGSI Batch 3. Jika kamu masih merasa awam di bidang pengembangan game, daftar untuk ikut program DILo Game Academy buat belajar dasar-dasar ilmu yang diperlukan untuk mengembangkan game secara online dan gratis di link berikut ini.

Bila masih ada pertanyaan atau informasi yang kurang jelas mengenai program IGSI, hubungi kami melalui Whatsapp (+62 822 1778 7119) atau email (game.indigo.id@gmail.com).

Read More

IGSI Game Jam #FOOD 2020

blog

Kali ini sebagai salah satu upaya agar pengembang game Indonesia menjadi lebih aktif dan dikenal lebih luas lagi, Tim Indigo Game Startup Incubation mengadakan kembali sebuah event Game Jam dengan tema MAKANAN.

Acara yang dibuka pada tanggal 29 Juli 2020 lalu ini, memberikan total hadiah yang cukup fantastis kepada pemenang event, yaitu sebesar 30 juta rupiah. Hadiah itu dibagikan menjadi 5 kategori pemenang, yakni:

  1. Best Promising Game Concept @3,5 juta rupiah untuk 2 tim
  2. Best Fun Game Concept @3,5 juta rupiah untuk 2 tim
  3. Best Game Art @3,5 juta rupiah untuk 2 tim
  4. Most Favorite Game sebesar 2 juta rupiah untuk 1 tim
  5. Favorite Games @1 juta rupiah untuk 5 tim

Untuk 3 kategori pertama, game yang telah disubmit oleh para peserta dinilai oleh para juri yang terdiri dari berbagai pihak yang terlibat dalam program IGSI. Sedangkan untuk 2 kategori terakhir, sesuai dengan namanya, dinilai dari dukungan di sosial media (Facebook Page IGSI) dengan cara like, comment, dan share banner post game dari tim favoritnya.

Acara ini disambut dengan sangat antusias oleh para pengembang game Indonesia hingga ada banyak sekali tim yang mendaftar mengikuti Game Jam kali ini. Setelah game jam dimulai, total ada 36 tim yang men-submit game-nya untuk ikut dilombakan dalam event kali ini.

Waktu penjurian dan juga voting untuk kategori game favorit, dimulai dari tanggal 12 Agustus 2020, dan berakhir pada tanggal 14 Agustus 2020 Pk 12.00 WIB. Hasil keputusan para pemenang kemudian diumumkan pada hari Sabtu, 15 Agustus 2020.

Berikut hasil keputusan yang diberikan oleh para juri untuk “Best Categories.”

1. Best Promising Game Concept (2 tim)

2. Best Fun Game Concept (2 tim)

3. Best Game Art (2 tim)

Hasil dari dukungan para penggemar peserta Game Jam untuk kategori “Favorite Categories” adalah sebagai berikut.

1. Most Favorite Game (1 tim)

2. Favorite Games (5 tim)

Seluruh game dengan tema makanan karya anak bangsa ini dapat dilihat lebih jelas melalui album foto Game Jam #FOOD 2020 di Facebook Page IGSI. Sedangkan yang penasaran dengan trailer dari game mereka, bisa cek langsung ke Playlist Game Jam #FOOD 2020 di Channel Youtube IGSI.

Bagi para Game Developer yang penasaran dengan program IGSI dan ingin bisa berdikari kedepannya, mari daftar buat ikutan batch berikutnya di website-nya langsung. Jika kamu masih awam akan dunia perkembangan game, persiapkan saja dirimu terlebih dahulu dengan mengikuti online course gratis dari DILo Game Academy.

Read More

3 Indigo Game Startup Incubation Participants Will Become Indonesia Game Developer Representative with 13 Others in Gamescom 2020 – Devcom Digital Conference 2020

blog

Mengutip dari situs OkeTechno (OkeZone), Kemenparekraf/Baparekraf bekerja sama dengan Asosiasi Game Indonesia (AGI) membuka program fasilitasi bagi perusahaan game Indonesia untuk berpartisipasi dalam Gamescom 2020 pada bulan Juli 2020.

Dikatakan pula bahwa telah terpilih 16 studio game yang akan menjadi wakil Indonesia dan mendapat fasilitasi untuk mengikuti Devcom Digital Conference, sub-event dari Gamescom 2020. Adapun 3 dari 16 studio game terpilih tersebut merupakan game developer startup yang dididik dan dibimbing melalui program Indigo Game Startup Incubation (IGSI) di batch pertama yang telah dijalankan pada bulan September hingga November 2019 lalu. Berikut nama dari ketiga tim yang lolos dari open call, maupun lolos melalui program GELORA 2020.

1. Freemergency

2. GINVO Studio

3. SLAB Games

Selamat kepada seluruh tim terpilih, semoga hal ini dapat menjadi salah satu pandangan yang baik bagi kemajuan Game Developer Indonesia dalam industri game secara global.

Read More