Terkadang di setiap pemikiran game developer, terutama yang masih startup, ketika ingin membuat game, hal paling utama yang dipikirkan adalah “apakah budget yang dimiliki cukup untuk membuat sebuah game yang bagus?” Pada webinar Indigo Game Startup Incubation (IGSI) beberapa waktu lalu, IGSI mengundang Fandry Indrayadi, Creative Director dari Agate, untuk menjawab pertanyaan yang selalu membuat para game developer bertanya-tanya.

Dahulu sebelum masuk ke Agate, Fandry juga pernah memiliki sebuah tim kecil yang terjun di dunia indie game developer. Pada masa itu, ia dan timnya hanya berpikir, bagaimana bisa deliver sesuatu yang terbaik walaupun dengan budget yang terbatas. Akhirnya mereka mencoba untuk memakai pendekatan “Hollow Square Theory” tentang bagaimana caranya membuat game dalam budget yang dimiliki.

Trik pertama yang mungkin sebaiknya diikuti dari teori tersebut adalah, tidak semuanya harus sempurna untuk membuat sebuah game yang bagus. Pola pikir yang ingin disampaikan dari trik tersebut adalah bila kita dapat membuat sesuatu yang penting itu bagus, maka bagian lain dari game tersebut juga akan ikut menjadi bagus juga.

Berikutnya Fandry menunjukkan beberapa grafik yang menunjukkan level excitement dari seorang player seiring berjalannya waktu ia bermain game. Pada grafik-grafik tersebut, garis axis y menunjukkan “Thrill” atau excitement yang dirasakan pemain, dan garis axis x menunjukkan “Span” atau lama waktu player bermain game.

Grafik di atas memperlihatkan sebuah game yang mediocre, dimana ketika dimainkan tak ada perasaan naik atau turun dari player yang memainkannya dari awal permainan hingga selesai. Menurutnya, justru hal seperti inilah yang dihindari oleh seorang game designer. Bahkan lebih baik membuat sebuah game dengan low quality, karena masih ada rasa “enjoy” ketika player bermain game tersebut, dan juga memiliki momen yang diingat betul oleh player mengenai game itu.

Grafik di atas memperlihatkan sebuah game yang mediocre, dimana ketika dimainkan tak ada perasaan naik atau turun dari player yang memainkannya dari awal permainan hingga selesai. Menurutnya, justru hal seperti inilah yang dihindari oleh seorang game designer. Bahkan lebih baik membuat sebuah game dengan low quality, karena masih ada rasa “enjoy” ketika player bermain game tersebut, dan juga memiliki momen yang diingat betul oleh player mengenai game itu.