Bagaimana caranya kita dapat menentukan sebuah cerita yang ingin disampaikan dalam game secara naratif? Seperti apa sih baiknya cerita tersebut didesain sehingga menarik terutama bagi para player atau target market yang akan memainkan game-nya? Lalu seperti apa prosesnya dari awal kita ingin “menghidupkan” cerita tersebut hingga akhirnya dapat direalisasikan ke dalam game yang kita kembangkan?

Dalam podcast episode kedua ini, host kita, Wimindra Lee, berbincang dengan guest speaker kita yang sebelumnya berprofesi sebagai Game Narrative Designer untuk game “Coffee Talk” yang dirilis oleh Toge Productions. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti pada paragraph sebelumnya, disini Fahmi bercerita bagaimana asal mula game “Coffee Talk” itu dibuat, hingga akhirnya dirilis belum lama ini.

Singkat cerita, di Toge Productions menurut Fahmi itu sering mengadakan semacam Game Jam untuk internal perusahaan. Siapapun yang memiliki ide, dan ingin mencoba membuat game, dapat mengikuti game jam tersebut dengan memberikan prototype game-nya terlebih dahulu. Hal itu dilakukan selain untuk meningkatkan produktivitas dan kreatifitas para pegawainya, juga untuk membuka peluang bagi para pegawainya untuk menciptakan game impian mereka sendiri.

Disinilah Fahmi mencoba untuk membuka peluangnya membuat sebuah game, yang bercerita seperti kehidupannya sehari-hari, bernuansa agak retro (pixel art), dengan berbagai karakter yang juga berasal dari berbagai dunia fantasy, dan memiliki karakter seperti dirinya dan juga para teman-teman satu timnya.

Asal mula ide-nya berasal dari ketika Fahmi sendiri sedang rileks meminum secangkir kopi di tengah hujan sambil memandang keluar jendela. Ia lalu berpikir, bagaimana caranya membuat orang yang memainkan game ini juga merasa memiliki perasaan yang serupa seperti itu ketika bermain. Atau istilah lainnya, bagaimana meng-“emulate” perasaan tersebut ke dalam sebuah video game.

Awalnya ia ragu untuk membuat game seperti ini, karena game dengan cerita serupa sudah ada beberapa diluar sana. Tetapi setelah berdiskusi dengan CEO dari Toge Productions, Kris Antoni, ia pun akhirnya melanjutkan mencoba membuat prototype game dengan kode proyek “Green Tea Latte.” Dalam diskusi tersebut Kris berkata untuk tidak masalah membuat game yang serupa dengan inspirasi atau referensi kita, karena bagaimanapun hasil akhirnya pasti akan ada “suara” atau “nyawa” dari yang memiliki idenya sendiri.

Fahmi bercerita bahwa yang penting ketika mengembangkan game ini, ada satu “keyword” yang harus diingat oleh timnya, yaitu apapun yang dilakukan dalam Coffee Talk ini adalah “cozy and chill.” Jadi dari awal pengembangan game-nya, direction-nya harus sudah jelas untuk setiap bagian, misalnya dari Art Direction, Music, Technical Art, dan sebagainya, harus mendukung “keyword” tersebut.

Karakter dalam game-nya pun harus iconic, dan berasal dari dunia fantasy. Misalnya ada seorang “elf,” tapi tidak membawa busur dan panah sebagai senjatanya, tetapi justru membawa tablet. Begitu pula dengan karakter lainnya yang biasanya sangar dan bersenjata, tetapi disini mereka justru berlaku layaknya seorang manusia di dunia modern dan bekerja serta bersosialisasi memakai alat-alat elektronik seperti laptop, smartphone dan lain-lain.

Fahmi pun lalu bercerita secara lebih mendetail bagaimana proses pembuatan game tersebut yang asalnya diperkirakan hanya memerlukan waktu 6 bulan dari pembuatan hingga rilis, ternyata butuh waktu lebih dari itu, yaitu selama 2 tahun.

Dari sini ia mendapat pelajaran bahwa dalam pengembangan game, sangat penting untuk memiliki satu pegangan dari awal, agar arahan dalam pembuatan game-nya jelas. Komunikasi dengan anggota tim juga sangat penting, baik dalam bentuk instan maupun dokumentasi, karena mungkin saja dapat lebih memudahkan pekerjaan para anggota tim itu sendiri. Dan juga jangan ragu untuk meminta tolong ke orang lain terutama yang tidak di dalam tim, karena feedback dari mereka mungkin saja menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kelangsungan dari pengembangan game-nya.

Bagaimana setelah membaca pengalaman yang dialami langsung oleh Fahmi? Apakah kalian jadi mendapatkan insight untuk mencoba menghidupkan cerita kalian sendiri ke dalam sebuah game? Tunggu artikel berikutnya mengenai bincang-bincang podcast kita yang lainnya ya!