SSR Talks — Skill Set You Need to Know about Game Rendering

blog

Setiap tahunnya, puluhan bahkan ratusan game 3D dirilis dan siap dikonsumsi oleh publik dalam bentuk mobile, PC, maupun console game. Dalam proses pembuatannya, game-game ini melewati banyak sekali tahapan dan langkah-langkah yang tidak sederhana. Sampai akhirnya game akan dirender untuk diteruskan tahapannya hingga siap untuk dipublikasikan.

Tapi mungkin pertanyaan awalnya adalah apa itu rendering? Rendering adalah salah satu proses yang umum dikenal di berbagai industri kreatif, tidak terkecuali di industri game. Proses ini merupakan salah satu langkah vital pada akhir suatu development process. Pada ranah industri game, proses ini biasa dikenal dengan game rendering, yaitu teknik grafis yang melibatkan berbagai komponen model gambar dua maupun tiga dimensi dalam sebuah program. Proses ini memungkinkan game developer untuk menciptakan game dengan animasi dan visual semirip mungkin dengan kenyataan. 

Sama juga halnya dengan berbagai proses lain dalam game development, game rendering juga membutuhkan serangkaian skill; mulai dari kemampuan dasar, hingga variasi teknik yang relevan. Mengangkat bahasan mengenai game rendering, SSR Talks kali ini akan mengundang Randy Tjandra, seorang Rendering Engineer untuk TiMi Studios. Adapun salah satu dari banyak proyek pembuatan game yang di dalamnya ada libatan dan campur tangan beliau adalah Ghost Recon Online, sebuah multiplayer third-person tactical shooter video game.

Penasaran tentang seluk beluk Game Rendering? Simak sesi SSR Talks Episode 14 dengan judul Skill Set that You Need to Know about Game Rendering. Akan ditayangkan secara langsung di kanal Youtube Indigo Game pada Sabtu, 17 September 2022 pukul 16.00 WIB. Registrasi sekarang juga di sini!
 

Read More

SSR Talks – Visual Languages as Tools to Improve Visual Storytelling

blog


Sering kali apa yang menarik dari sebuah karya visual bukanlah sekadar detail ataupun warna yang dimiliki serta dipakai, melainkan pula cerita yang menempel pada karya itu sendiri. Seorang visual artist memiliki kemampuan untuk menyampaikan berbagai macam hal lewat sebuah gambar – termasuk di dalamnya cerita, emosi, dan pesan-pesan lainnya.

Dalam video game, tidak bisa dipungkiri kalau aspek visual pun memiliki daya tarik tersendiri bagi para pemain. Selain itu, gambar yang digunakan juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan suatu pesan kepada pemain tanpa melulu menggunakan teks. Hal ini tentu dapat membuat pengalaman bermain jadi lebih imersif karena sebuah visual art tersebut akhirnya dapat menghubungkan pemain dengan dunia yang telah kita buat bersamaan dengan cerita yang dibawanya.

Visual storytelling juga tidak terbatas hanya untuk berbagai heavy narrative game yang memang pada dasar tujuan gamenya adalah menyajikan experience lewat cerita. Sebagaimana heavy narrative, kebanyakan jenis game yang lainnya juga membutuhkan aspek visual yang dapat menyampaikan cerita dengan baik untuk menjaga gamenya tetap koheren. Agar penyampaian narasi lebih variatif dan apik dengan tidak melulu menggunakan teks sebagai mediumnya

Pembahasan soal aspek-aspek visual dalam sebuah karya, termasuk game, biasanya sangat menarik untuk diikuti. Pada SSR Talks kali ini, Indigo Game Startup Incubation mengundang Ann Maulina, seorang freelancer Comic Artist yang juga pernah bekerja untuk Marvel dan DC Comic

Pada sesi ini kita akan mengupas bagaimana sebuah visual dapat menjadi media storytelling yang menarik, yang kemudian dapat diimplementasikan dalam proses pengembangan game. Simak SSR Talks Episode 13: Visual Languages as Tools to Improve Visual Storytelling yang akan ditayangkan secara langsung lewat kanal Youtube Indigo Game pada Minggu, 21 Agustus 2022 pukul 16.00 WIB

Registrasi sekarang juga di sini

Read More

Game Development Indonesia dari Masa ke Masa

blog

Industri game merupakan salah satu dari sekian banyak industri kreatif yang cukup kompetitif dalam perkembangannya. Rasio kegagalannya yang dinilai cukup tinggi oleh beberapa pihak membuat banyak game developer mengundurkan diri tanpa berpikir dua kali. Pekerjaan dalam membuat video game tidak mudah, banyak aspek di dalamnya yang sangat menuntut para pengembang untuk tidak sekadar menyukai dan memahami video game, tetapi pula pengembangannya. Dan ketekunan dalam bekerja adalah satu hal mutlak yang harus dimiliki ketika memutuskan untuk terjun ke dalam industri ini. 

Di Indonesia sendiri, orang mulai bermain video game sejak Nintendo atau game arkade seperti Ding Dong masuk ke indonesia pada era 80-an, kemudian pada akhir 90-an terekam kemunculan game developer yang diinisiasi oleh berdirinya Matahari Studios, yang diakui sebagai developer pertama di Indonesia. Selanjutnya nama Agustinus Nalwan pada saat itu juga disebut-sebut sebagai seorang yang sudah mulai mengembangkan game sebagai solo game developer dan juga menulis buku tentang pembuatan game. 

Lompat ke satu dekade berikutnya, Matahari Studios mengakhiri karirnya, namun seiringan dengan itu pula industri game diramaikan dengan munculnya fenomena The Flash Gold Rush yang terjadi pada era 2000-an dan kabar baiknya, tentu saja Indonesia turut terdampak. Fenomena tersebut menjadi titik awal hadirnya banyak studio-studio game development baru di Indonesia. Pesatnya perkembangan game industry di Indonesia pada masa kejayaan Flash juga jadi sebuah milestone pertama bagi beberapa studio yang hingga hari ini masih berdiri seperti Agate dan Toge Productions. 

Pada tahun 2010-an, industri game Indonesia makin jauh lagi melangkah setelah akses untuk merilis game pada mobile patform jauh lebih mudah, ditambah dengan perkembangan teknologi smartphone yang mulai muncul pada tahun-tahun tersebut. Beberapa mobile game yang akhirnya menjadi viral adalah Icon Pop Quiz yang dikembangkan oleh studio game Alegrium, dan Tahu Bulat oleh Own Games. Sementara di patform PC, terdapat marketplace game bernama Steam yang sempat memiliki program Steam Greenlight, yang akhirnya juga turut meningkatkan ekposur beberapa game buatan Indonesia pada publik yang jauh lebih luas. Beberapa di antaranya adalah Valthirian Arc, Celestian Tales, dan tidak ketinggalan DreadOutgame bergenre horor yang demonya sempat dimainkan oleh PewDiePie dan membuat popularitasnya melonjak signifikan. 

Berkembangnya industri game di indonesia sampai hari ini tidak terlepas oleh dukungan-dukungan dari komunitas seperti gamedev.id dan Asosiasi Game Indonesia melalui program Skilltree-nya di YouTube. Berkaitan dengan hal tersebut, Indigo Game pula hadir sejak 2019 lalu untuk turut ambil bagian dalam perkembangan industri game lokal. Inisiatif yang dikembangkan untuk mengadakan program inkubasi khusus game developer Indonesia serta sesi SSR Talks yang rutin diadakan tiap bulannya merupakan bentuk usaha yang diharapkan dapat mendukung perkembangan industri game.

Kemudian dengan ditetapkan dan diperingatinya Hari Game Indonesia pada tanggal 8 Agustus tiap tahunnya, diharapkan industri yang tengah dibangun bersama ini kelak akan mendapat tempat yang lebih baik lagi di kancah lokal dan internasional. Selamat Hari Game Indonesia!

Read More

Kunjungan Kemenkeu RI ke Indigo Game

blog

Minggu lalu Kementerian Keuangan melakukan kunjungan ke IndigoHub Bandung pada Kamis (28/07). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka persiapan konsepsi untuk pengelolaan inovasi yang kolaboratif dan terintegrasi. 

Dalam kunjungan tersebut para staf Kementrian Keuangan, termasuk Kasubag Tata Kelola II Biro Org dan Ketatalaksanaan, Cecep Hedi Herdiman, melihat langsung proses inkubasi para game startup Indigo Game Startup Incubation Batch 5 yang kini tengah berlangsung. Rombongan Kemenkeu juga disambut oleh Dinoor Susatijo, selaku Senior Manager Indigo Management beserta jajaran stafnya. 

Selain itu, para staf lain juga berbincang-bincang dengan beberapa member tim yang sedang dalam proses mengembangkan produk gamenya. Sejumlah topik yang dibicarakan adalah game yang sedang dikembangkan oleh para startup, serta proses penyelenggaraan program Indigo Game Startup Incubation itu sendiri. Di kesempatan yang sama juga terdapat showcase berbagai judul game garapan para alumni Indigo Game Startup Incubation angkatan sebelumnya, seperti Who is He, Biwar: Legend of Dragon Slayer, Project Buramato, dll. 

Pengayaan bahan dengan kunjungan langsung seperti ini dianggap sangat perlu dilaksanakan sebagai pendukung dalam proses penyusunan konsep pengelolaan inovasi. Diharapkan pula dengan kunjungan ini, pihak Kementrian Keuangan dapat mempelajari best practice terkait pengembangan framework budaya inovasi secara keseluruhan. Baik berupa sistem pendukung, maupun konsepsi penciptaan inovasi (inkubasi/sandbox) yang menjadi bagian dari proses bisnis yang diselenggarakan oleh Telkom Indonesia. 

 

Read More

Tahun ini Indigo Game Kembali Adakan Google Week

blog

Sebagai salah satu benefit yang Indigo Game berikan kepada para startup game yang tergabung di program Indigo Game Startup Incubation adalah penyelenggaraan acara internal, Google Week. 

Google Week merupakan sharing knowledge berupa online webinar yang rutin diadakan tiap periode Indigo Game Startup Incubation. Acara ini diisi oleh para pembicara yang berasal dari Google dan Google Partner, dan ditujukan untuk para startup IGSI yang berhasil lolos seleksi ke tahap inkubasi. Selain itu, para alumni IGSI dan Indigo Game Academy pun turut diundang untuk berpartisipasi pada event ini.  

Acara berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 13 – 15 Juli 2022 dan setiap harinya akan ada dua materi berbeda yang disampaikan kepada audiens. Secara garis besar, ada 5 muatan utama Google Week kali ini, yaitu validasi, monetisasi, database, marketing, analytics. Kelima topik tersebut tentu akan sangat bermanfaat bagi para startup ketika nanti produknya telah dirilis dan digunakan oleh publik.
 

Presentasi Understand Your Players Better with Global-scale Data and Analytics oleh Tiffany Adriana

Para pembicara yang mengisi acara merupakan para ahli dengan bidang expertise dari kelima topik utama di atas. Pada hari pertama, Tiffany Adriana, seorang CE Data Analytics di Google, memberikan banyak insight seputar analisis data lewat presentasinya yang berjudul Understand Your Player Better with Global-scale Data Analytics. Secara umum, materinya adalah sebuah ringkasan tentang kapabilitas data analytics untuk mendukung perusahaan game. Tiffany memaparkan tentang bagaimana para pemilik bisnis, termasuk para startup IGSI, bisa memanfaatkan data untuk mendapatkan insight tentang user mereka. 

Presentasi materi Games at Planet Scale with Google Cloud oleh Ady Suryawan

Selanjutnya, masih di Google Week Day One, hadir juga Ady Suryawan yang merupakan Customer Engineer Infra/Apps Mod di Google. Ady Suryawan mengangkat topik seputar penyimpanan database dengan materinya yang bertajuk Why GCP for Games?. Setelah membuka presentasi dengan sesi ice-breaking game menggunakan Kahoot, ia mencoba menjelaskan bagaimana teknologi yang dimiliki oleh Google Cloud Platform dapat memberikan banyak sekali keuntungan pada industri game. Dipaparkan juga bahwa bagaimana Google Cloud dapat menjadi jawaban dari masalah-masalah yang hari ini dihadapi oleh industri game. Disamping itu juga Google Cloud dapat mendukung industri untuk sustain dan bertumbuh di masa yang akan datang. 

Presentasi oleh Harry Tan

Selanjutnya, hari kedua Google Week dibuka oleh pemaparan materi tentang pengenalan Google Ads berjudul Introduction to Google Ads, yang dibawakan oleh Harry Tan. Sebagai seorang Growth Manager di bagian Mobile App Sales Google, Harry Tan memberikan penjelasan pada audiens untuk memperluas wawasan terkait Google Ads campaign. Selain itu juga disampaikan beberapa langkah startup untuk mulai mengetes gamenya.  

Presentasi materi oleh Vaishakh Nair

Setelah sesi pertama selesai, acara Google Week Day Two dilanjutkan dengan presentasi yang dibawakan oleh Vaishakh Nair, seorang Apps Regional Product Lead Google. Dengan mengangkat topik data analitik berjudul Measure Your Game Performance with Firebase. Di sini Vaishakh Nair memaparkan materi tentang bagaimana Google Analytics untuk platform Firebase dapat membantu para starup mendapatkan pemahaman yang lebih baik seputar user. Lebih jauh lagi, analisis ini juga bisa membantu penggunanya untuk menyaring para user yang dianggap valuable.

Presentasi materi oleh Ferdian Gunawan

Sama seperti event pada dua hari sebelumnya, hari ketiga Google Week 2022 juga dimuat oleh dua materi yang dibawakan para expert dari Google. Materi yang pertama adalah Take Your Game to The Next Level through Maximizing Lasting App Revenue. Ferdian Gunawan, Strategic Partner Manager Google, menerangkan tentang beragam macam format iklan AdMob dan dasar-dasar monetisasi menggunakan iklan. 

Presentasi materi oleh Sung Jae Joo

Sesi presentasi kemudian dilanjutkan oleh Sung Jae Joo, Regional Product Lead Google. Dengan materi berjudul How to Boost LTV through Hybrid Monetization, Sung Jae Joo membahas secara mendalam mengenai studi seputar hybrid gaming publisher yang tingkat keberhasilan strategi monetisasinya telah naik pesat dengan menggunakan metode monetisasi hybrid. 

Seluruh rangkaian materi yang dimuat pada Google Week pun ini diharapkan dapat membantu memberikan insight kepada para startup dan alumni Indigo Game Strtup Incubation mengelola dan memasarkan produk-produk game mereka ke depannya. 

Simak informasi terbaru tentang Indigo Game Startup Incubation lewat akun instagram Indigo Game.

Read More

IGSI Update: Kocheng Battle of Boings Masuki Tahap Open Beta!

news

 

Telkom percaya bahwa industri game Indonesia memiliki potensi yang besar untuk bersaing di kancah global. Oleh karena itu, Indigo Game Startup Incubation (IGSI) hadir sebagai upaya dan dukungan majunya industri game lokal. IGSI merupakan program inkubasi startup game dengan beragam fasilitas yang menarik. Salah satu game yang dikembangkan pada program IGSI adalah Kocheng: Battle of Boings yang mengangkat seekor kucing berwarna oranye sebagai karakter utama yang populer dengan nama Kocheng Oyen. 

Kocheng: Battle of Boings adalah game player versus player (PVP) ala Gunbound dan Cat Dog. Terinspirasi dari game klasik tersebut, game ini memiliki premis yang unik dan segar. Pemain akan bermain sebagai boneka kucing berwarna oranye beserta teman lainnya yang berada di dalam sebuah kotak permainan arkade klasik, yaitu claw machine atau mesin capit. 

Kocheng Oyen dan teman-temannya digambarkan dapat hidup di malam hari dan melakukan pertarungan antar-boing. Setiap boing (boneka yang terdapat di dalam mesin capit) memiliki keunggulan dan keunikan masing-masing, sehingga perbedaan tiap boing tidak hanya terdapat pada tampilannya saja. 

Adapun dua mode multiplayernya adalah 2 vs 2 dan 1 vs 1. Sama halnya dengan mekanik pada gameplay yang juga memiliki 2 mode, yaitu mode Mantul untuk mekanik dan premis yang fresh, serta mode Timpuk untuk mode klasik tanpa memantul yang di mana semua dikontrol dengan slingshot yang sama.  

Secara umum, tujuan yang harus dicapai oleh pemain adalah menjadi boing terbaik agar dinobatkan sebagai juara. Sedangkan boing terburuk nantinya tidak boleh meluncur sendiri ketika ada cakar mesin yang bisa meraihnya saat siang hari. Jadi, hanya boing terbaiklah yang bisa bertahan di dalam mesin arkade. 

Game ini mulanya adalah sebuah prototype yang dibuat oleh salah satu studio pengembang game lokal, Mirai Mimpi, pada 2018 lalu. Mirai Mimpi kemudian berhasil lolos seluruh tahapan seleksi di program Indigo Game Startup Incubation Batch 1 pada 2019. Lalu dalam perjalanannya Kocheng: Battle of Boings akhirnya akan diterbitkan oleh Melon Indonesia. 

Sejak akhir Juni lalu, Kocheng: Battle of Boings telah memasuki tahap Open Beta. Jika kamu tertarik dengan game PVP online multiplayer dengan mekanik slingshot dan bounce kamu dapat mengunduh dan memainkan gamenya melalui link berikut https://bit.ly/KochengBTOB

 

 

Read More

SSR Talks – A Perspective on Game Balance

SSRTalks
Ketika bermain game, pemain akan merasakan sense of fairness dari sebuah game, dan game designer punya peran untuk mengatur hal tersebut lewat Game Balance.  
Game Balance adalah sebuah komponen krusial dalam game design. Kunci dari menyeimbangkan sebuah game adalah dengan tidak membuat karakter atau sebuah strategi tertentu menjadi dominan di dalam satu lingkup permainan. Sejauh ini tidak ada satu cara praktikal yang pasti untuk mengatur game design sedemikian rupa agar seimbang sempurna, karena sedikit banyaknya dominasi tadi mungkin tetap akan dapat dirasakan oleh pemain. Sebab, memang sense of fairness tidak sama dengan perfect balance. Sebuah game bisa tetap terasa fair walaupun dia tidak perfect balance. 
Inilah juga yang dirasakan pemain ketika mereka memainkan game yang tampak tidak seimbang atau asimetris, tetapi mereka tetap merasakan bahwa gamenya fair. Oleh karena itu, untuk menghasilkan game yang fair walaupun tidak perfect balance inilah, seorang game designer perlu banyak melakukan analisis dan percobaan terhadap gamenya.  
Dalam rangka memperluas kembali wawasan tentang Game Balance, pada SSR Talks kali ini IGSI mengundang Pandu Jatikusumo, seorang System Designer di Larian Studio Belgium, untuk berdiskusi tentang Game Balance dari dua sisi, yaitu pemain dan Game Designer. Kita juga akan membahas bagaimana aspek “balance” dan “imbalance” dalam game yang justru dapat dimanfaatkan demi bisa menyuguhkan meaningful experience kepada pemain. 
Jangan lewatkan SSR Talks Episode 12, A Perspective on Game Balance! Ditayangkan live di kanal Youtube Indigo Game pada Sabtu, 23 Juli 2022 pukul 16.00 WIB | 11.00 waktu Belgia.   
Registrasi sekarang juga! Klik di sini! 
Read More

IGSI Update: Grinsmile di Festival Gim Indonesia

blog
Asosiasi Game Indonesia (AGI) bekerja sama dengan Kementrian Perdagangan Republik Indonesia dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menggelar acara persembahan bagi para pengembang dan penikmat game dalam negeri, Festival Gim Indonesia. Berlokasi di Cihampelas Walk Bandung, acara yang berlangsung pada 23 – 26 Juni 2022 lalu ini memamerkan 15 game buatan para pengembang game lokal. Masing-masing game tersebut pun dapat dinikmati oleh para pengunjung secara gratis. 
Dari sederetan judul game-game lokal populer yang berada di pameran, terdapat pula game garapan salah satu alumni IGSI Batch 2, Don’t Step On Me!. Game yang tengah dikembangkan oleh GrinSmile Studio ini menarik cukup banyak pengunjung untuk mencoba memainkannya. 
Dengan gaya pixel art yang likeable dan warna-warna vibran yang eye-catching pada environment-nya, game garapan Grinsmile ini pun banyak menuai pujian tentang grafis game yang digunakan. Don’t Step On Me! juga hadir dengan mode multiplayer yang bisa dimainkan bersama tiga orang teman, sehingga menambah keseruan pengalaman bermain. 
GrinSmile adalah studio pengembang game yang berbasis di Malang, Indonesia. Dengan game bergenre couch-party multiplayer, GrinSmile berhasil lolos di berbagai tahapan yang dilangsungkan pada program Indigo Game Startup Incubation Batch 2 tahun 2020 lalu.  
Setelah mengembangkan Don’t Step On Me! Selama kurang lebih 2 tahun, pada 2022 ini akhirnya Grinsmile Studio sampai di tahapan terakhir sebelum perilisan produk, atau yang biasa disebut tahap Gold. Don’t Step On Me! pun telah direncanakan akan rilis pada akhir tahun mendatang.
Ikuti informasi dan update terbaru dari GrinSmile Studio lewat akun Instagram GrinSmile Studio.
Read More

Opening Ceremony IGSI Batch 5

blog , news

Setelah dua tahun Indigo Game Startup Incubation dilangsugkan secara daring, untuk pertama kalinya fase inkubasi pada IGSI Batch 5 kali ini dilaksanakan secara hybrid (online dan offline). Begitu pula acara Opening Ceremony yang berlangsung pada Kamis (30/06) kemarin, di gedung Bandung Digital Valley (BDV). Acara ini dihadiri oleh beberapa petinggi baik dari pihak Telkom Indonesia, Melon Indonesia, maupun dari sisi Agate. Beserta VIP dari tim Indigo, tenant, dan tim manajemen IGSI pun turut hadir di lokasi. 

Acara diawali dengan pemberian kata sambutan dari Dinoor Susatijo, selaku Senior Manager Indigo Management. Selain memberikan sambutan hangat dan selamat kepada para game startup terpilih, beliau juga menyampaikan agar rekan-rekan startup bisa sebaik mungkin memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia. Baik itu fasilitas pengembangan dan fasilitas bimbingan yang bisa didapat dari para mentor.

Beliau juga menyatakan harapannya, “Semoga di batch kali ini semua startup bisa lulus ke tahap Alpha. Dan karena programnya sekarang dilaksanakan secara hybrid, semoga semangatnya juga bisa menjadi dua kali lipat, sehingga hasilnya pun akan jadi jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Dan semoga juga dapat menghasilkan game yang mendunia.”

Kata sambutan juga disampaikan oleh Shieny Aprilia, CEO PT. Agate International, kepada keenam game startup yang sudah sampai di tahapan inkubasi ini, “Ini baru langkah awal untuk kita sama-sama bisa membangun produk dan perusahaan teman-teman untuk bisa jadi perusahaan yang sustainable dan bisa bersaing di industri game global. Semoga teman-teman bisa memanfaatkan kesempatan yang betul-betul berharga ini semaksimal mungkin. Semangat dan tetap jaga kesehatan.” 

Acara seremoni selanjutnya disusul oleh pengenalan para mentor dan tim manajemen yang bertanggung jawab untuk kelangsungan program IGSI Batch 5 ini hingga penutupan nantinya. Tidak juga ketinggalan pengenalan keenam startup yang diinkubasi di angkatan kali ini, yaitu Berangin Creative, Motion Canvas, Mushroomallow, Seraph Games, Strayflux, dan UniXCorp.

Dalam sesi perkenalan, masing-masing leader mewakili startupnya untuk memperkenalkan anggota serta game yang mereka akan kembangkan di program IGSI kali ini. Kemudian acara ditutup dengan keseruan mini ice-breaking game berupa tebak gambar yang diikuti oleh seluruh tenant IGSI yang hadir pada acara kali ini. Beberapa partisipan yang berhasil menjawab pertanyaan dengan tepat mendapatkan hadiah dari tim manajemen berupa merchandise menarik. 

Merujuk pada jadwal awal, periode inkubasi program IGSI batch 5 ini akan terselenggara selama 5 bulan, dengan menerapkan penempatan kerja secara hybrid, yaitu WFH (Work From Home) dan WFO (Work From Office). Kebijakan dan standar operasional yang terbaik pun sudah diterapkan sebagai bentuk penjagaan serta antisipasi penyebaran berbagai macam penyakit pasca-pandemi ini. 

Perkembangan program Indigo Game Startup Incubation dapat diikuti melalui media sosial facebook, instagram, dan twitter. 

Read More

Selamat Datang di Fase Inkubasi, Para Tenant IGSI Batch 5!

news
Indigo Game Startup Incubation adalah program inkubasi yang ditujukan bagi para startup yang bergerak di bidang game development. Program ini adalah hasil kerja sama antara Telkom Indonesia, PT. Agate International, dan Melon Indonesia sejak tahun 2019. Saat ini Indigo Game Startup Incubation telah diikuti oleh 200 game startup dan berhasil menginkubasi 27 startup terpilih. 
Pada waktu mendatang, program ini diharapkan dapat terus mengambil peran besar untuk mengakselerasi digitalisasi dan memajukan ekosistem industri game di Indonesia, hingga dapat bersaing semakin baik di kancah global. 
Telkom Indonesia percaya bahwa industri game di Indonesia berpotensi besar untuk berkembang. Oleh karena itu, melalui Indigo Game Startup Incubation, Telkom secara konsisten terus berupaya untuk mengembangkan ekosistem industri game Indonesia. 
Setelah melalui tahapan Bootcamp selama kurang lebih dua bulan, sebanyak 32 tim yang berpartisipasi dalam IGSI Batch 5, secara ketat diseleksi untuk melanjutkan  ke tahap Inkubasi. Dalam seleksi final pitching yang dibagi menajdi dua gelombang, akhirnya keluar enam nama startup terpilih. Dan berikut adalah para startup terpilih tersebut:
1. Seraph Games 

Tim yang berasal dari Jakarta & Bogor beranggotakan lima orang ini mengangkat tema Monster Battle and Collection RPG pada gamenya yang berjudul Dice Monster.

2. Berangin Creative 
Para anggota tim Berangin Creative berdomisili di Kabupaten Pekalongan. Bersama mereka akan mengembangkan Kejora, sebuah game 2D Puzzle Adventure.  
3. Salt Studio 
Salt Studio, tim yang terdiri dari sepuluh anggota yang masih berstatus mahasiswa. Mengangkat game bdengan titel Lily. Game Puzzle Platformer inilah yang akan dilanjutkan pengembangannya pada program IGSI batch 5 kali ini. 
4. Mushroomallow 
Selanjutnya adalah startup yang juga berasal dari Bandung. Mushroomallow mengajukan konsep game bergenre Item Shop Simulator dengan judul Wonder Wandelier yang nantinya akan dikembangkan. 
5. Motion Canvas
Kemudian ada Motion Canvas. Tenant yang berasal dari Manado ini beranggotakan sepuluh orang. Dengan gamenya yang berjudul Dark Lord Is Died, sebuah Party-Based RPG, mereka berhasil lolos ke fase inkubasi Indigo Startup Incubation Batch 5. 
6. UniXCorp 
Startup yang berasal dari Surabaya ini pitching-nya berhasil terpilih dan melanjutkan pengembangan gamenya, Heisters, dengan bimbingan para mentor di program IGSI.
  Keenam game startup tersebut pun akan mulai menjalani fase inkubasi pada akhir Juni hingga November 2022 mendatang. Sepanjang inkubasi, para peserta akan mendapatkan berbagai benefit berupa pendanaan dan berbagai fasilitas pengembangan, termasuk co-working space yang disediakan di gedung Bandung Digital Valley milik Telkom yang berlokasi di Bandung. Selain itu, fasilitas pendampingan oleh para mentor juga akan terus berlangsung hingga akhir program.   
Rangkaian program akan ditutup dengan acara internal berupa Demo Day yang menjadi ajang showcase karya dari masing-masing startup. Internal Demo Day ini juga yang nantinya menjadi seleksi untuk melanjutkan ke tahap Alpha, di program Indigo. Setidaknya satu start-up terpilih nantinya akan menyusul empat belas startup lain, yang sejak awal terselenggaranya program Indigo Game Startup Incubation, sudah berhasil masuk ke program Indigo. 
Read More
EnglishIndonesianJapanese