Sebuah free to play game yang baik, rata-rata dimainkan tidak hanya dalam 2 hingga 10 jam saja, tetapi bisa dimainkan bahkan hingga lebih dari 1 tahun lamanya. Apa yang membuat para pemain tetap betah dalam memainkan game tersebut? Apakah pengembang game yang membuat game tersebut juga tidak rugi membuatkan game gratisan untuk dimainkan? Padahal pasti mereka memerlukan pemasukan untuk membuat game-nya tetap berjalan bagi para pemain setianya.

Ternyata jawabannya adalah sistem monetisasi atau ekonomi virtual dalam game tersebut yang didesain dengan sebaik mungkin. Dalam Skill Tree Asosiasi Game Indonesia (AGI) episode 18, AGI mengundang Julio Andryanto dari Dreams Studio untuk membahas mengenai mengapa desain ekonomi virtual penting terutama untuk free to play game. Dreams Studio sendiri merupakan peserta dari program Indigo Game Startup Incubation (IGSI) batch ke-2 dan ke-3 yang berasal dari Batam.

Julio disini menjelaskan, ketika seorang pemain dalam waktu sekejap sudah tidak ingin memainkan lagi sebuah free to play game, biasanya ada 2 permasalahan yang terjadi dari desain game tersebut. Yang pertama adalah ketika progress pemain / user yang terlalu cepat atau lambat (misalnya progress menaikkan level atau status karakter dalam game). Kedua adalah virtual currency dalam game tersebut terlalu mudah atau terlalu sulit untuk diambil (seperti diamond atau gem untuk membeli suatu gear / equipment khusus) sehingga pemain akan merasa tidak layak meluangkan waktunya untuk memainkan game tersebut. Maka penting bagi seorang game designer untuk mendesain sebuah ekonomi virtual dalam game-nya yang baik dan juga dapat diukur dengan jelas.

Dalam studi kasus pertama, Julio memperlihatkan sebuah contoh dari game yang pernah mereka kembangkan bersama dengan Niji Games yang berjudul Leturn: Defense of Magic. Seperti terlihat dalam diagram di atas, rata-rata player melakukan spend di awal memainkan game-nya (titik berwarna hijau). Lalu dapat dilihat dari garis di bawah yang menunjukkan lama mereka memainkan _game-_nya (hours), dalam waktu tidak lama mereka sudah tidak memainkan game tersebut (titik berwarna merah). Mereka rata-rata mengeluarkan uang di awal bermain karena memang game ini didesain seperti sebuah game premium (misalnya yang mengharuskan mereka untuk bayar jika ingin melanjutkan bermain).

Kenapa terjadi hal seperti itu padahal dapat dikatakan game ini merupakan sebuah game yang bagus? Ternyata permasalahan ada pada game economy atau currency yang mereka rancang ketika membuat game tersebut. Mereka juga jadi kesulitan untuk melihat data apa yang menjadi masalah dalam desain game tadi karena di awal mereka merancang game tersebut, mereka membuat dokumen atau data untuk pembuatan game-nya terpisah-pisah atau standalone (berdiri sendiri).

Berikutnya mereka memberikan contoh sebuah desain ekonomi virtual yang telah dibentuk menjadi diagram. Seperti yang terlihat pada diagram di kiri atas, mulai dari sekitar menit 70, garis berwarna oranye yang menunjukkan income selalu berada di atas cost (garis berwarna biru), yang dapat diartikan kalau user lebih gampang main. Kemudian di diagram kanan atas, grafik menunjukkan bahwa seiring berjalannya waktu, cost perlahan naik ke atas. Dengan data yang terintegrasi, setiap _cost (_misalnya untuk upgrade atau pembelian lainnya) dapat dijadikan satu data dan terlihat dengan jelas seperti ini.

Kemudian pada diagram kanan bawah, terdapat beberapa garis berwarna kuning, hijau, dan ungu yang menunjukkan ketika user beli premium. Dapat diartikan dari grafik tersebut, bila mereka membeli premium lebih banyak lagi, income juga akan selalu berada di atas cost. Namun perlu dicatat juga bahwa yang ingin kita capai disini adalah ketika income tidak terlalu tinggi, tetapi cost juga tidak terlalu di bawah, sehigga terjadi sebuah balance yang baik dalam desain ekonomi virtual di game.

Julio juga bercerita mengenai ketika ia pergi ke sebuah mentoring yang diadakan di Singapur, dan disana ia ditanyakan hal seperti ini, “apakah yang ingin kalian bangun? Sebuah game? Atau sebuah perusahaan?” Dikatakan jika hanya ingin membuat game, maka tidak perlu pusing memikirkan bagaimana sistem monetisasi game tersebut. Sedangkan jika ingin membuat sebuah perusahaan, maka sedari awal lebih baik sudah memikirkan sistem monetisasi game itu. Sebuah game yang baik (misalnya, gameplay atau mechanic yang baik) dengan desain ekonomi game yang baik juga, akan menghasilkan sebuah retensi yang bagus sehingga menjadi sistem monetisasi yang bagus pula.

Dalam studi kasus kedua, mereka kemudian menunjukkan game yang saat itu sedang mereka kembangkan melalui program IGSI, yang berjudul Milky Way: Space Idle Shooter. Julio menekankan bahwa ketika menentukan currency dalam game, penting untuk ditentukan juga fungsi dan tujuan dari setiap currency tersebut. Yang paling penting disini bukan desain dari sistem currency, melainkan bagaimana seorang game designer membuat semua peran dalam timnya juga mengerti akan sistem currency yang ia desain.

Jika dalam studi kasus pertama mereka membuat setiap data terpisah atau berdiri sendiri, disini mereka belajar dari kesalahan tersebut. Mereka membuat seluruh data terintegrasi dari awal sehigga mudah untuk melihat datanya dan mudah juga untuk mem-balance­ desain ekonomi virtual game-nya.

Kali ini mereka menunjukkan sedikit contoh integrasi data menggunakan machinations.io. Terlihat dari grafik pada gambar di atas, ada sebuah garis biru yang menunjukkan currency diamond. Seiring dengan berjalannya game, garis tersebut juga ikut semakin naik. Namun di terakhir justru tidak terpakai, padahal currency ini merupakan sebuah currency yang penting karena currency ke-3, yang berarti ada permasalahan dari desain ekonomi virtual mereka. Lalu di garis yang berwarna kuning / emas, di menit sekitar 300 terjadi sink atau penurunan karena pemakaian yang terlalu banyak. Dari sini terlihat bahwa dengan data dan desain yang pasti, maka diagram juga dapat terlihat dengan sangat jelas sehingga balancing game-nya juga menjadi mudah.

Akhir kata, secara singkat mereka menjelaskan bahwa hal-hal yang paling penting untuk diperhatikan ketika mendesain sebuah ekonomi virtual dalam game yang akan dikembangkan adalah:

1. Aspek dari game economy adalah designing money, market, and currency.

2. Seorang game designer harus dapat merancang sebuah sistem atau data yang terintegrasi dan dinamis.

3. Sistem monetisasi sudah harus dipikirkan semenjak dari awal ingin mengembangkan game.

Semoga isi dari artikel ini bermanfaat dan pembaca menjadi lebih mengerti pentingnya sebuah desain ekonomi virtual dalam mendesain sebuah game.